Select Page

KERANJANG

LAI menuliskan kata “gantang” dalam ayat 8. Tapi dalam terjemahan bahasa Inggris dituliskan kata ”basket” yang artinya adalah keranjang. Keranjang atau gantang di sini tentu harus memiliki ukuran yang cukup besar untuk bisa dimasuki seorang wanita ke dalamnya (v 7).

 

Yang mau kita fokuskan dalam renungan kita kali ini adalah kata keranjang ini. Jadi bukan diskusi antara nabi Zakaria dengan malaikat atau tentang malaikatnya yang bisa dilihat dan berbicara dengan nabi Zakaria, dll.

 

Keranjang ini adalah tentunya keranjang biasa, yang pada umumnya terbuat dari bambu atau rotan. Keranjang yang cukup kuat dan besar untuk bisa mengangkat seorang wanita didalamnya. Keranjang yang cukup ringan juga untuk bisa dibawa ke mana-mana, dalam hal ini dibawa ke Sinear (v 11).

 

Wanita ini disebut sebagai kefasikan (wickedness, v 8). Ia bukan bernama kefasikan. Tapi ia adalah kefasikan itu sendiri. Jadi kefasikan ternyata bukan sesuatu benda atau hal-hal yang tak berpribadi (impersonal being). Digambarkan di sini, ternyata kefasikan itu berpribadi, berperasaan. Ia betul ada. Ia betul hidup. Ia betul memiliki daya tarik yang kuat. Maka ia digambarkan sebagai wanita (tidak berarti semua wanita adalah fasik ya).

 

Dan menariknya lagi adalah, kefasikan ini sangat pasrah dan patuh kepada malaikat Tuhan. Ia tidak berani berbicara apa-apa. Ia tidak berani minta apa-apa. Ia tidak berani melawan, usul, bersuara, dll. Ia hanya diam, taat dan pasrah. Diletakkan dalam keranjang, ok. Diperlakukan dengan kurang nyaman (didorong masuk ke dalam keranjang, tutup gantang dibanting), ok. Dibawa ke Sinear, ok. Mau diapain, ok. Tidak ada protes. Tidak ada complain. Tidak ada keberatan.

 

Di sini, kita bisa melihat kuasa mutlak dari Tuhan atas kefasikan atau kejahatan. Tidak usah Tuhan turun tangan sendiri. Baru 1 malaikat-Nya saja, kefasikan sudah tak bisa apa-apa. Ditaruh dalam keranjang, juga tidak berani berbuat apa-apa. Seolah keranjang yang sederhana itu lebih berkuasa atas kefasikan ini.

 

Tuhan tidak hanya berkuasa terhadap sesuatu hal, tapi terhadap segala sesuatu. Tidak ada hal yang tidak dikuasai dan diatur Tuhan. Jadi, Tuhan juga berkuasa atas kefasikan. Atas kehendak dan izin-Nya sajalah, kefasikan bisa berbuat sesuatu.

 

Saya jadi ingat kisah si jahat datang kepada Tuhan meminta izin untuk mencobai Ayub. Kalau Tuhan tidak mengizinkan, tentu si jahat tidak akan bisa berbuat apa-apa. Tapi dalam kisah tersebut, Tuhan mengizinkan si jahat untuk mencobai Ayub sedemikian rupa beratnya, hanya tidak sampai mengambil nyawa Ayub. Si jahat taat 100%.

 

Demikian juga dengan kisah ini, kita bisa belajar, bahwa Tuhan memiliki kuasa dan rencana yang sempurna atas segala sesuatu. Ia juga bekerja di dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi anak-anak-Nya. Kalau Tuhan tidak mengizinkan, maka tidak akan terjadi hal yang tidak dikehendaki-Nya. Kalau Ia mengizinkan, sesuatu hal, yang mungkin bagi kita kelihatan tidak baik, hal itu tetap akan terjadi dan berjalan sesuai dengan rencana-Nya. Dan kalau itu memang terjadi, pasti hal itu akan terjadi dengan tepat dan mendatangkan hasil yang baik.

 

Bagaimana dengan situasi kita hari ini? Rasanya keadaan tidak makin membaik. Penyakit dan orang sakit makin bertambah banyak. Keadaan ekonomi juga membuat stress, dll. Apakah kita masih percaya bahwa segala sesuatu ini Tuhan izinkan demi kebaikan kita?

 

Dalam bulan kemerdekaan ini, mari kita bersyukur untuk kemerdekaan RI yang ke 75. Kita juga bersyukur bahwa tidak ada sesuatu yang akan terjadi di luar kehendak-Nya. (ASH)